LDR? *pffft*
Ga usah elo tanya seberapa sering gue LDR. Klo lo baca post2 gue sebelumnya tahulah ya dari berapa kali pacaran berapa kali juga gue LDR.
Btw, hari gini ada yang masih ga tahu ga, LDR itu apa? LDR itu singkatan dari dance-dance revolution. Jadi ya, semacam battle dance sama mesin gt deh. *plak! Yayaya, LDR itu Long Distance Relationship aka pacaran jarak jauh. Alias elo dan yayang lo terpisah jarak yg cukup jauh hingga tidak bisa bertemu sewaktu2. Harus nunggu hingga sebulan sekali atau bahkan setahun sekali! Gileee, setahun sekali, pacaran atau minum pil cacing? Hahaha, sstt, gue tuh yang ngalamin. *huft!*
Tanya: Wah, canggih juga lo LDR ketemu setahun sekali. Bertahan berapa lama?
Jawab: dua tahun.
Tanya: Jadi selama LDR cuma ketemu dua kali?
Jawab: Harus gue jawab nih?
Tanya: Trus, apa yg lo rasain?
Jawab: Rasain apanya?
Tanya: Selama menjalani itu perasaan lo gimana?
Jawab: Hm… Mbak2, tolong itu pertanyaan2 dispesifikin ya, gue bingung sama pertanyaan2 lo. *ngoks!*
Gue ga bicara gimana gue menjalani LDR dgn spesifik orang. Ini penggeneralisasian buat semuanya ya. Jadi, elo, yang ngerasa pernah LDR sama gue, gue ga hanya bicara ttg lo. *pffft*
Yap, langsung saja.
Dahulu, gue ga masalah dgn LDR. Sama sekali enggak. Karena gue juga bukan tipe orang yang harus ditemenin mulu sama pacar gue. Bisa dibilang gue mandiri. Sampai sekarang kadang temen2 gue masih sering heran sama gue, bisa2nya gue keliaran di mall, pertokoan, dan cafe2 sendirian. Hahaha.
Jujur ya, gue saat itu bahkan merasa ga LDR. Gue ga merasa ada jarak diantara kami. Kenapa? Karena bagi gue, dia ga berada di kejauhan. Dia selalu berada dimana gue berada. Dia selalu nemenin gue setiap saat. Intinya adalah karena doi gue selalu ada di hati gue, meeen! *uhuk*
Namun, ternyata gue ga setegar itu hingga frekuensi rindu akan bertemu makin sering dan sering, makin membludak dan membludak. Kadang gue bisa sampai mewek kejang2 hanya karena nahan rindu. *lebay* *ueks!*
Sakitnya LDR itu adalah ketika kita sangat membutuhkan kehadiran orang yg kita sayang tapi dia tidak bisa hadir menemani kita. Contoh nyata:
Saat gue opname, gue bener2 butuh pacar gue. Tapi doi ga bisa nemenin gue secara nyata disisi gue. Curcol ah, saat itu gue berusaha mengerti. Tapi gue sedih bgt. Kesedihan gue pun gue ekspresiin dgn rewel dan bawel ke doi. You know what? Dia malah marah ke gue, meeen. Woi! Orang sakit malah dimarahin! Sambungan telp dimatiin sepihak dong! Gilaaakkk! *tendang doi ke kuburan cina*
Hahahaha.
Duh, klo ngomongin ga enaknya LDR byk bgt cuy. Makanya klo ditanya gue mau LDR apa kaga skrg2 ini, dih, mending kaga deh, sumpeh! Eneg gue!
Pasti banyak juga kan temen2 yg LDR. Baik terpisah benua, negara, atau mungkin hanya terpisah kota.
Gue ga mau mengecilkan hati para pasangan hati yang tengah LDR. Ga masalah dgn LDR. Tapi menurut yg gue amati, rahasia kelanggengan LDR ternyata spt ini:
1. Hubungan yg terbina sebelum LDR udah kuat.
Yap, pacaran itu ga enaknya biasanya dimulai pada bulan2 ketiga. Ga tahu juga klo udah pada ga enak di bulan pertama, mungkin ada yang salah sama kejiwaan kalian. *pffft*
Setelah melewati masa2 itu, biasanya hubungan jadi lebih stabil. Nah, itu menjadikan fondasi LDR lebih kuat. Jadi, hindari baru jadian lanjut LDR. Beuh, mending putus dulu aja deh.
2. Ada komitmen yang mengikat.
Nah, udah bukan rahasia lagi sesuatu yang memiliki tujuan pasti akan memudahkan proses dalam pencapaian tujuan. LDR juga gitu. Misal, udah bilang bakal menunggu hingga bertemu kembali. Misal, setelah ga LDR mau merit. Yap, itu pengikatnya. Beda sama hubungan yang ga punya masa depan. Misal: “Kita jalani saja hari ini, kita lihat kedepannya gimana” Beuh, gatot (gagal total -red) itu mah. Oh ya, komitmen harus dua pihak ye, klo satu pihak mah, eyuuuhhh, big no.
Yang LDR pasti tahu bagaimana memaintenence hubungan ini.
1. Komunikasi harus tetep jalan.
Yap, ada sms, ada bbm, ada telp, ada email, ada ym, ada skype! Gampanglah.
2. Saling percaya
Sama aja kaya pacaran2 model standar. Percaya is a must. Intinya be positive, be positive, be positive. Capek? Pastinyaaa~ Hahaha.
3. Punya jadwal utk ngabisin waktu bersama meskipun secara virtual.
Misal, janjian maen game online di hari blablabla jam blabla. Atau janjian skypean setiap wiken.
4. Punya waktu kapan akan bertemu lagi.
Iyaaaa, ini pentiiiiiinnnngggg! Cari waktu kapan bisa ketemu lagi. Lalu ditepatiiiiiiiiii…… Apalagi yang LDR super jauh yaaaa….
Oh ya, orang LDR biasanya males ngomongin masalah yang dihadapi, atau mengutarakan hal yang mengganjal. Ujung2nya, disimpen dan lama-kelamaan jadi meledakkk! Dhuuuaaarrr!
Orang yang LDR biasanya juga memiliki ingatan ttg bagaimana pacarnya hanya sebelum LDR berlangsung.
*eh maksudnya apa yah?*
Adek: Maksudnya apa, Kakak?
Kakak: Maksudnya begini, Dek…
Adek: Apa, Kak?
Kakak: Begini, Dek…
Adek: Apaaaaa?
Hahahaha,
Maksudnya adalah bayangan lo ttg pasangan lo ya yang ada cuma sebelum LDR. Misal:
1. Dia gendutnya segimana
2. Rambutnya seperti apa
3. Sikapnya seperti apa
4. Perlakuannya seperti apa
5. Dll-dll-dll.
Nah, hingga suatu ketika kita ketemu, meski udah sering skype-an atau apapun itu, tapi ternyata ada dari dia yang berubah menurut lo!
Yap, lo merasa orang yang didepan lo ini adalah orang asing. Meski dia masih dia yang dulu. Tapi pasti ada saja satu dua hal yang bikin elo berkata: “Dulu dia ga begini.”
Ketika LDR elo kehilangan waktu utk melihat perubahan doi. Elo hidup dibayang2 suatu masa sedangkan kehidupan udah jauh bergerak ke depan. Ibaratnya memory elo ttg dia ter-pause, sedangkan hidup lo, hidup dia, kehidupan kita semua berjalan biasa.
*pffft*
Okay, akhir kataaa:
Buat yang belum LDR, siap2in diri supaya kuat dan tabah menjalani LDR kedepannya.
Buat yang belum pacaran, jangan mau LDR!
Buat yang lagi LDR, semangkaaa! Semangat kakak!!!
*pssst, justru disinilah letak keindahan perjalan asmara, di LDR*
Huahahahaha.
See you,
-Asti-
0