Yap. Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak cewek matre dan cewek yang inginkan pasangannya memiliki harta yang melimpah. Tapi, tahukah kamu bahwa segala yang didapat dengan tanpa perjuangan tidak akan memiliki arti?
Ini gue tulis berdasarkan sudut pandang dan pengalaman gue.
Suatu ketika, gue dan temen gue cerita panjang lebar. Tentang rencana sebelum wisuda (saat itu kami lagi sibuk TA) dan rencana setelah wisuda mulai dari pekerjaan hingga menikah dan mau jadi apa kedepan kelak.
Jujur. Gue sangat terinspirasi oleh dia. Yap, dia adalah teman gue yang paling dewasa dan memiliki pola tingkah laku yang paling stabil. (Beda bgt sama gue, umur gue paling tua, tapi kelakuan gue paling labil. Hahahaha).
Masuklah kami berdua ke topik: Berumah Tangga.
Ternyata dia dan kekasihnya (pacarannya klo ga salah sudah 9 tahun) telah memikirkan rencana yg sungguh sangat matang untuk masa depan mereka berdua. Gue tercengang. Serius. Pikiran gue ga nyampe kesana, meeen. Dan dia pun mulai bercerita.
“Aku habis wisuda pengen kerja dulu, Ti. Dua tahun lah kira2 di Jakarta. Pengen banyak2 dapet pengalaman. Setelahnya mau cari beasiswa ke Belanda. Habis itu aku mau pulang ke daerah asal aku. Jadi aku bakal menikah minimal empat tahun lagi. Si R (pacar doi) juga udah setuju aku mau kerja dan S2 dulu.”
Si R, alias pacar temen gue ini udah kerja dan sekarang tinggal di daerah asal mereka. Si R ini dulu juga kuliah di Bandung. Dia lanjut cerita.
“Kita udah punya rencana, Ti. Kita selain kerja kantoran juga ingin buka usaha sampingan. Tapi kita bakal serius, Ti.”
Dia jabarin rencana usaha dia sama pacarnya. Lengkap dengan perhitungan prospek bisnis, kompetensi yang mereka miliki dan rencana ekspansi yang akan mereka berdua lakukan.
Terkesima banget gue. Trus gue komentar:
“Wih, keren banget! Detail banget apa yang pengen kalian berdua lakuin.”
Trus dia nimpalin
“Iya, Ti. Wajar. Nah, sekarang aku masih heran sama kau. Kau ga jelas mau ngapain sekarang-sekarang ini. Bukannya gimana ya, Ti. Tapi klo aku bandingin sama temen yang lain, temen2 yang lain itu nyari cowok itu udah kaya cari jodoh. Kau malah asyik maen sama si ini sama si itu. Ga jelas. Masih mau main2 aja, Ti? Sekarang umur berapa? Nikah anggaplah 25 atau 27 tahun. Kapan mau pacarannya? Masa mau langsung nikah gt aja?”
Aku: “Jodoh2 itu nanti ajalah. Klo perlu sama Om2 aja. Om2 yg udah kaya. Supaya aku bisa hidup santai. Hahahaha”. «~ ngomong dengan gaya cengengesan dan sok asyik bin ga pake otak. Maksudnya sih pengen ngalihin pembicaraan yg berat ini eh tapi respon doi begini.
“Aku percaya apapun yang kita lakuin terutama pekerjaan, klo kita senang menjalaninya, rejeki tinggal ngikut aja, Ti. Ga usah mikirin dpt duit harus segini2. Lakuin target2 kecil. Semua ada prosesnya. Uang bakal nempel ke kita. Jgn takut.”
Dia lanjut lagi.
“Aku sama pacar aku emang udah niat bahas rencana-rencana kami. Kata Tante aku, lebih baik menikah sama yang biasa2 aja. Lalu membangun bahtera rumah tangga yang sukses bersama2. Dibalik pria sukses ada wanita yang hebat. Disanalah aku pengen mendampingi pasangan aku sejak belum jadi siapa2 hingga jadi siapa2. Kata orang, pernikahan yang begini jauh lebih langgeng. Karena apa, Ti? Karena keluarga pasangan dan pasangan akan respek sama kita. Karena mereka semua akan melihat perjuangan kita dan pasangan kita mencapai sukses.”
Aku: “Oh iya ya?” «~ akunya mulai berkerut jidat alias mikir.
“Iya, Ti. Bayangin kau nikah sama milyuner. Rumah udah ada, mobil udah ada. Kau bakal ga direspek sama mertua kau. Meskipun kau punya karir bagus, pinter dan cantik. Kecuali kau kayanya melebihi mereka.”
Oh meeen… Ga jadi deh pengen nikah sama Om2. Huahahaha!!!
“Itu dia, Ti. Ga perlu cari cowok kaya atau apapun. Yang penting kalian saling sayang, punya pekerjaan, dan saling mendukung. Dampingi ia. Jadi kaya bersama-sama. Dukung ia mencapai sukses.”
Aku mulai angguk-angguk.
Sumpah. Bener dan masuk akal banget apa yang dia bilang. Hahaha.
Trus dia komentar ttg diri gue:
“Ti, aku penasaran. Kaya apa yang jadi suami kau nanti. Sumpah, kau itu ga bisa ditebak. Kau itu keras, kau itu pengen cowok yang pengertian dan perhatian bgt sama kau. Tapi kau klo diperhatiin banget, bosen. Tapi kalo kau dpt cowok yg nurut kali kau bilang ga punya pendirian. Klo cowoknya keras, kau bilang susah diatur dan ga ngertiin kau.”
*pffft*
“Ti, ga bakal ada orang yg pas 100% sama keinginan kau. Kau harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pacar kau. Kau juga harus bisa mengalah sedikit. Ga semua keinginan kau harus dipenuhi, Ti.”
Hiks, nasehat dan pemikiran2 dia benar-benar membuka mata hati gue. Gue terlalu asyik pada keinginan dan pemikiran gue. Gue lupa ada hal-hal lain yang harus dikompromikan demi mencapai sesuatu yang lebih indah.
Tentang mendampingi orang yang kita sayang hingga sukses, hm… Gue setuju banget. Gimana dengan kalian?
Ps: Meq, I’ll remember this ;)
-Asti-