8.31.14.

Public Figure: Dian Sastro

Salah satu public figure yang bisa menjadi role model bagi aku mungkin adalah Dian Sastro. Cantik, ga neko-neko, dan yang paling penting adalah ia berpendidikan.

Pertama kali melihat ( I mean mengenal) Dian Sastro adalah saat dia menjadi finalis Gadis Sampul 1996. Saat itu aku masih SD, kakakku yg berlangganan majalah itu. Kakakku saat itu bertanya padaku menurut aku manakah yang jadi pemenangnya. Aku kemudian menunjuk foto Dian Sastro. (Ia menang kemudian).

Setelah itu, meski dia main di AADC, rasanya biasanya aja. Ga tertarik meski dia artis hits.

Hari ini aku membaca sebuah tabloid dengan Dian Sastro sebagai covernya. Aku membaca artikel mengenai dirinya yang cumlaude pada jenjang S2-nya.

Aku selalu tertarik dengan orang-orang pintar. Terlebih ketika seseorang tersebut cantik dan memiliki penampilan yang bersahaja, tidak heboh, glamor, atau apapun yang berlebihan.

Ada beberapa poin pernyataannya yang sama dengan pemikiranku, yakni:

1. Rahasia cumlaude:

"Karena teman-teman. Sekelas itu teman aku pintar-pintar. Jadi, akhirnya aku sadar, kita itu pintar atau enggak karena pengaruh teman. Kalau teman kita memberi energi positif dan pintar, kita mau tidak mau akan terbawa."

-Aku setuju. Makanya ketika ada yang menyatakan bahwa kita tidak boleh pilih-pilih teman, aku menyanggahnya dengan justru penting untuk memilih teman. Buat apa berteman dengan yang tidak punya visi hidup ke depan, buat apa berteman dengan pemalas, buat apa berteman dengan orang yang berpikiran hedonis pragmatis.

2. Patungan dalam rumah tangga:

"Sebelum menikah kami sudah putuskan. Oke kita patungan ya, nanti pas nikah. Kmu bayar yang mana dan aku bayar yang mana."

-Saat aku menikah, aku ingin menerapkan konsep ini. Aku tidak bergantung pada siapapun. Aku akan ikut berkontribusi sepenuhnya pada keluarga, terutama anak-anak aku kelak.

3. Istri berpenghasilan:

"Sebagai wanita tetap perlu memiliki penghasilan sendiri. Laki-laki akan lebih respek kepada wanita yang memiliki penghasilan sendiri."
“Jadi, dia respek sama aku, makanya dia enggak bisa nyuruh-nyuruh aku kayak aku ngontrak sama dia.”

-Sewaktu aku masih SD, nenekku selalu menasehati aku agar aku menjadi orang yang cerdas dan pintar. Ia selalu bangga padaku. Lalu ia mengatakan bahwa aku harus punya penghasilan sendiri sebelum menikah. Itulah yang membuat suamiku kelak atau keluarga suami akan respek dan tidak meremahkan aku. Terlebih aku adalah wanita berpendidikan tinggi. Itu yang selalu aku pegang.

4. Menikah saat siap:

"Saya tanya ke Indra memang harus sekarang ya, enggak bisa 5 tahun lagi misalnya? Waktu itu aku belum pingin menikah, masih pingin mengejar karier." "Makanya aku suka heran sekarang artis-artis yang baru umur 20 tahun sudah menikah. Dulu aku umur 25 tahun lagi senang-senangnya mengejar karier, padahal menurut aku sebelum menikah finansial kita harus sama-sama stabil."

-Yap. Menikah cepat bukan pilihan. Aku ingin menikmati kehidupanku sendiri. Aku ingin puas mencoba berbagai hal. Ingin mengeksplor banyak hal baru. Aku masih ingin meniti tangga karier dan stabil pada jalan karier yang aku pilih.
Aku ingin anak-anakku kelak mendapatkan gizi dan pendidikan yang terbaik. Itu akan terpenuhi ketika aku memiliki keuangan yang stabil.


Begitulah. Senang rasanya ada yang berpikiran sama. You go, girl. From now and then, you’re my role model.

-ASTI W.-

0

8.25.14.

Menyesalkah?

Mereka pun menanyakan padaku apakah aku menyesal dengan keputusan yang telah aku ambil. Aku tersentak. Mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Kemudian aku tersadar bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak menyesal, meski aku sempat sedih harus memilih dua hal yang sulit.

I tried to figure it out. Why? Is it really no regret at all?

I know the answer…

I do not regret at all because I did it based on kindness and truthfulness.


-ASTI W.-
——-

1

7.04.14.

Moody

Couple years ago, I had a close friend (we’re no longer close). We shared a lot stories. We talked about life, love, sometimes family. He was a nice friend. I had a bf at that time, and he had one too.

One day, he broke up with his gf. Some months later, I broke up with my bf. I had no special feeling to him. We were still close, but no more than that.

Then, he had a gf. I had one too. If I had a problem with my bf, I talked to him. Always like that till one day he talked to me:
“My gf is jealous of you. She thinks we hide something from her. She wants to meet you, to know you more.”
I answer: “Ok. When? Where?”
“Next friday, 6 pm, at Blablah Restaurant. Would you?
“Yap. See ya.”

On that friday, I was so busy. I had done many things, and my bf was getting on my nerve. Yeah, I was tired and annoyed. All I wanted to do was sleeping. Then, I just remembered that I had an appointment with my friend. Then I called him that I couldn’t go because I wasn’t in the mood.

That’s the end of story.

At that point, I went first to myself. I didn’t care about what she might feeling cuz I had nothing to do with it. Ah, I feel so sorry with em.

I need to handle my mood wisely sometime, I think. Maybe I should tell them the reason why I didn’t wanna show up instead of saying that I wasn’t in the moooood~

-Asti-

0

7.02.14.
0

6.23.14.

Menikah

Aku bosan dengan topik ini. Aku bosan dikatakan selalu mengulang kisah percintaan. Aku bosan dinasehati untuk segera menetap dengan satu orang. Aku bosan. Sangat bosan.

Iya, aku perempuan. Aku tahu aku hanya punya sedikit waktu untuk memiliki anak. Tapi, perlu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk punya dua anak?

Iya, aku perempuan. Aku diharuskan untuk biasa saja pada pria dan biarkan pria mengejarmu. Aku tahu. Aku paham. Cari pria baik, aku lakukan. Cukup itu saja sebagai syarat suami. Ah, sudahlah aku tahu itu. Tapi, percuma saja. Toh, ujung-ujungnya setiap pria juga akan mengalami puber kembali dan akan mendua meski dahulunya sangat memuja kita.

Jadi, kenapa aku harus segera menetap dengan satu orang? Jika ujung-ujungnya aku kehilangan kendali atas hidup dan bergantung pada kesetiaan orang lain?

-Asti-

0