7.04.14.

Moody

Couple years ago, I had a close friend (we’re no longer close). We shared a lot stories. We talked about life, love, sometimes family. He was a nice friend. I had a bf at that time, and he had one too.

One day, he broke up with his gf. Some months later, I broke up with my bf. I had no special feeling to him. We were still close, but no more than that.

Then, he had a gf. I had one too. If I had a problem with my bf, I talked to him. Always like that till one day he talked to me:
“My gf is jealous of you. She thinks we hide something from her. She wants to meet you, to know you more.”
I answer: “Ok. When? Where?”
“Next friday, 6 pm, at Blablah Restaurant. Would you?
“Yap. See ya.”

On that friday, I was so busy. I had done many things, and my bf was getting on my nerve. Yeah, I was tired and annoyed. All I wanted to do was sleeping. Then, I just remembered that I had an appointment with my friend. Then I called him that I couldn’t go because I wasn’t in the mood.

That’s the end of story.

At that point, I went first to myself. I didn’t care about what she might feeling cuz I had nothing to do with it. Ah, I feel so sorry with em.

I need to handle my mood wisely sometime, I think. Maybe I should tell them the reason why I didn’t wanna show up instead of saying that I wasn’t in the moooood~

-Asti-

0

7.02.14.
0

6.23.14.

Menikah

Aku bosan dengan topik ini. Aku bosan dikatakan selalu mengulang kisah percintaan. Aku bosan dinasehati untuk segera menetap dengan satu orang. Aku bosan. Sangat bosan.

Iya, aku perempuan. Aku tahu aku hanya punya sedikit waktu untuk memiliki anak. Tapi, perlu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk punya dua anak?

Iya, aku perempuan. Aku diharuskan untuk biasa saja pada pria dan biarkan pria mengejarmu. Aku tahu. Aku paham. Cari pria baik, aku lakukan. Cukup itu saja sebagai syarat suami. Ah, sudahlah aku tahu itu. Tapi, percuma saja. Toh, ujung-ujungnya setiap pria juga akan mengalami puber kembali dan akan mendua meski dahulunya sangat memuja kita.

Jadi, kenapa aku harus segera menetap dengan satu orang? Jika ujung-ujungnya aku kehilangan kendali atas hidup dan bergantung pada kesetiaan orang lain?

-Asti-

0

6.06.14.

Orang Bali: Cewek vs Cowok

Beredar tulisan mengenai enaknya hidup dengan orang Bali di sosial media. I was like, really? Ah, these guys are too much. Iya enak jika hidup dengan cewek Bali. Ga enak kalau hidup dengan cowok Bali (conditional).

Kelemahan orang Bali menurut orang bukan Bali adalah orang Bali too proud of themselves. Apa sih yang mereka banggakan? Keindahan alam Bali? Ok. Kekhasan tradisi dan adat? Is it enough? Or what? What else?

Orang Bali itu terlalu bangga sama dirinya sendiri. Ajum istilah Baline. Terlalu “Hey, look at me. I’m Balinese. I’m so so so special you know~”

Kembali ke poin paragraf awal.

Hai cowok Bali, tahu ga stereotip cowok Bali di mata orang lain? Mau tahu? Udah tahu? Yakin?

Cowok Bali itu PEMALAS. Wait, namanya juga stereotip, generalisasi, jadi tidak semuanya. Biasanya sih yang ga seperti ini yang sudah pernah keluar dari cangkangnya, alias sudah pernah keluar dari Pulau Dewata nan indah dan pernah mengamati/peduli kondisi Bali. Jadi bukan yang ala-ala kura-kura dalam tempurung gitu.

Iya, stereotip kalian itu pemalas. Dari jamaaaaaaan dulu udah terkenal seperti itu. Baca saja semua literatur mengenai Bali, you’ll find it. EASILY.

Jaman dulu, cowok Bali kerjaannya sabung ayam, judi, minum, nongkrong, ketawa-ketawa ga jelas dengan sesamanya. Jaman sekarang? Ga jauh beda. Lebih berpendidikan sih, tapi kelakuan masih serupa.

Bandingkan dengan cewek.

Stereotip cewek Bali adalah PEKERJA KERAS. Iya, bener. Ga percaya, sok waelah tanyakeun sama orang lain atau sama buku-buku yang beredar.

Paling kasihan sih sama cewek Bali jaman dulu. Tapi jaman sekarang masih ada yang begini juga (terutama kalau dapat pasangan yang pemalas).

Pagi-pagi cewek Bali udah bangun, jualan di pasar, siangnya masak, mengurus rumah, sore sembahyang, malam masuk kamar. Ckckck. Nyari duit ya iya, ngerjain kerjaan rumah juga iya. Kasian.

Entah stereotip atau sudah turunan gen, entahlah.

So, apa kamu masih menjadi orang Bali kebanyakan? Apa kamu termasuk ke dalam bagian dari stereotip negatif itu? Hayo lho~


*Psttt, I don’t care who will be my hubby. If he’s a Balinese, I’ll make sure he has been living outside. Just like me.*


-Asti-

1

6.01.14.

Masalah Kulit

Akhir-akhir ini muncul jerawat-jerawat pada kulit wajah saya. Rasanya sangat menyebalkan. Ditambah saya jarang berurusan dengan jerawat meski kulit cenderung berminyak.

Produk-produk yg dulu saya pakai tidak menimbulkan jerawat pun kini malah menimbulkan jerawat.

Jerawat yang muncul biasanya di dagu. Saya paham itu faktor hormonal. Namun, tiba-tiba ada jerawat di pipi itu rasanyaaaaaaaa argharghhhggr.

Rasanya ingin kembali ke produk dokter. Tapi, saya tidak suka. Bersih sih, jerawat hilang, bekas hilang, tapi rasanya kulit terlalu kencang dan kering. Saya suka kulit saya terhidrasi. Membuat saya merasa kulit saya sehat, kenyal, dan padat. Bukan tipis, kering, kencang. Selain itu, jika menggunakan produk dokter, saya tidak boleh dandan. Padahal dandan adalah satu kegiatan paling menyenangkan sedunia. Hahah.

Lalu, apa yang harus saya lakukan ya?


Hmmmmmm…..


-ASTI-

0