Curhat: Sandra Bullock, Captain America, dan Nokia

Seharusnya hari itu berakhir dengan sempurna. Awalnya memang sempurna, namun berakhir bencana. Hahaha. Ga gitu juga sih.

Mari kita mundur ke belakang. Mundur hingga di hari kamis kemarin.

Salah satu seorang sahabat gue, sebut saja Anggrek Bulan nge-bbm gue. Dia memberikan gue akun twitter salah seorang pria, sebut saja bernama Capt. America. Duuuh, kok pake nama palsu beginian yak. Baiklah, klo begitu gue juga akan menyamar menjadi Sandra Bullock. Huahahaha. Ya udahlah ya, terima saja demikian :p

Jadi, malam sebelumnya Anggrek Bulan ini merekomendasikan seorang pria yang mungkin bisa membuat gue sedikit melirik pria ini. Yap, dia adalah si Capt. America. Kemudian di hari kamis itu, dia mengatakan pada gue bahwa berdasarkan konfirmasi yang ia terima dari Capt. America, si Capt. America ini memang sedang jomblo. Akhirnya singkat cerita Capt. America nge-add fb gue dan nge-whatsapp gue.

Si Anggrek Bulan ini juga ngemensyen twitter gue seperti ini:

“@SandraBullock Bull kenalin ni temen gw dr kecil Capt @CaptAmerica.. Haha (ˆヮˆ)っ (»˘⌣˘) (ˆ⌣ˆ )” <— Btw, napa jelek begini panggilan nama samaran gue? Bull? Hahaha.

Mesyenan itu gue bales setelah beberapa kali chat di wazzap dengan Capt. America.

Kemudian gue membalas mensyen dari Anggrek Bulan seperti ini:

“@AnggrekBulan oh, yang ngewazzap barusan yak? @CaptAmerica. Hihihi. Hai2 lagiii…”

Capt. America pun membalas:

“@SandraBullock @AnggrekBulan waduh buka aib nih,haha”

Beberapa jam berlalu, dimana gue dan si Capt. America telah selesai chat basa-basi seru ga penting tapi sedikit penting (ga penting sih sebenernye, hahaha), kemudian muncul seorang wanita ngemensyen gue, Anggrek Bulan dan Capt. America.

Karena wanita ini akan gue sering ceritakan selanjutnya, mari kita pilihkan nama samaran yang singkat untuknya. Baiklah, mari kita beri nama dia: Nokia. Hihihi. Random abis dah.

Jadi, begini kata si Nokia:

“Jd gini ya? RT SandraBullockAnggrekBulan oh, yang ngewazzap barusan yak? CaptAmerica. Hihihi. Hai2 lagiii…”

Uhuooo….! Kaget sih, tapi biasa aja. Ga kaget-kaget banget.

Saat itu gue mikir, hanya orang yang memiliki hubungan yang lebih dari sekedar temen yang berani ngemensyen seperti itu. Kenapa gue tahu? Ya, karena gue juga pernah buat twit kaya gitu ke mantan gue dulu. Hahaha :p

Ya, gue diemin aja sih. Trus gue bbm si Anggrek Bulan. Intinya adalah gue protes ke Anggrek Bulan. Kan kata si Anggrek Bulan barusan si Capt. America jomblo, lah kenapa bisa muncul mensyen kaya gitu? Hayah.

Beberapa saat kemudian Capt. America ngewazzap gue kaya gini:

“Bullock, Udah tidur ya? Sorry klo tadi ada yang mengention ya.”

Gue baca tapi ga gue bales. Mending gue tidur aja deh, besok aja gue bales. Pikir gue.

Besok paginya gue bales begini:

“Selamat pagiii… Dia pacar ya? Oh, gpp. Wajar kali ;)”

Kemudian dia cerita panjang lebar tentang siapa si Nokia dan ada hubungan apa antara dia dan si Nokia. Intinya, Nokia ini adalah HTS-an si Capt. America dan beberapa hari belakangan ini hubungan mereka memang ga baik. Capt. America pun sudah pernah meminta udahan. Lalu di hari dia ngewazzap gue buat pertama kali, dia mengatakan bahwa mereka habis bertengkar dan seharian ga kontakan. Dia juga menyampaikan bahwa sekarang dia dan Nokia sudah putus. Dia juga mengatakan bahwa emang suatu saat hubungan mereka akan berakhir karena ada prinsip fundamental yang ga bisa disatukan. Mereka pisah secara baik-baik.

Baiklah.

Singkat cerita Capt.America menanyakan apakah saya ada waktu lowong di hari itu. Namun, secara kebetulan jadwal saya hari itu telah full karena ada janji dengan berbagai orang hingga malam.

Nah, ini dia inti ceritanya. Segala yang terjadi di hari minggu kemarin.

Capt. America mengontak gue (doi selalu yang duluan ngontak). Langsung ajalah ya ke percakapan saat doi ngajakin gue nonton. Chatnya kaya begini:

“Udah jadi nonton The Avenger?”

“Hahaha. Beyuuummm…”

“Sama nih (modus) ;)”

“Ohhh… Modus toh :’)”

“To the point aja deh. Nonton yuk ;) Hihi”

“To the point juga deh. Ayuk. Kapan? xp”

Hahaha, begitulah. Kemudian jam 16.30 doi sampai di rumah gue buat ngejemput gue. Kasian banget sih pake acara ngejemput gue segala. Secara dari kost doi ke rumah gue itu jauh banget. Sssttt, entah kenapa doi ini adalah orang pertama yang gue biarin buat ngejemput gue ke rumah. Biasanya kaga. Gue lebih seneng ketemuan langsung dimana gitu.

Pas ngeliat doi pertama kali, jengjeng. Baiklah, dia terlihat santai dan sederhana. Ga metros2 banget. 

Kami nonton di salah satu mall di Cihampelas. Kita nonton The Avenger versi 3D. Yeay. Pas gue ngeluarin dompet buat bayar, dia duluan yang ngebayarin. Hm…

Sebelum film dimulai, kami ngobrol2, panjang lebar, hingga akhirnya kembali membahas si Nokia. Dia mengatakan bahwa ia dan Nokia telah HTS-an selama dua tahun. Wow! Gue kaget. HTS-an napa bisa nyampe dua tahun? Gue aja pacaran kaga pernah nyampe dua tahun. Hahaha.

Kami nonton kemudian makan. Saat itu kami memesan makanan cepat saji karena gue harus segera pulang. Kali ini gue yang traktir doi. Saat gue bayar makanan kami, doi menerima telp dan menjauh. Doi balik lagi sambil tetap hp menempel di telinga dan membawa nampan makanan kami ke meja terpilih.

Pengennya sih gue makan barengan. Tapi semenit, dua menit doi kaga mengakhiri pembicaraan. Akhirnya gue makan duluan. Gue ngira mungkin itu mamanya, papanya, atau mungkin si Nokia. Gue ga denger doi ngobrolin apa. Di tempat itu berisik dan Capt. America ini bersuara dengan pelan. Lagi pula gue ga niat tahu apa obrolan doi.

Kemudian doi mulai makan dengan hp tetap menempel diantara telinga dan bahunya.

Gue makan, doi makan. Ditengah kami masih makan, Capt. America menyodorkan ponselnya. Doi ngomong begini:

“Sandra, ada yang mau ngomong sama kamu.”

“Siapa?”

“Ada…”

“Siapa? Mantan kamu?”

“Iya.”

Gue terima ponselnya dan berkata hallo. Namun gue ga mendengar balasan dari seberang. Berisik sih itu tempat kami makan. Gue jadi heran gimana si Capt. America bisa ngobrol di tempat berisik cem gini via telp.

Gue serahkan ponsel itu kembali ke Capt. America. Gue bilang gue ga denger apa2.

Doi berkata lagi apa-itu-aku-tidak-dengar ke Nokia. Kemudian Capt. America meminta gue lagi untuk bicara pada Nokia. Gue ambil lagi itu henpon dibantu Capt. America menempatkan henpon secara tepat di telinga gue.

Akhirnya gue denger juga suara si Nokia. Samar-samar.

“Hallo?” Kata gue.

“Hallo..”

“Iya, ini siapa?”

“Ini gue, Nokia.”

“Oh, iya kenapa?”

“Kita belum kenalan. Nama lo siapa?” Suaranya terdengar ramah.

“Gue Sandra Bullock. Kenapa ya?” Gue bales dengan ramah juga.

“Capt. America pernah cerita ttg gue ga? Lo tahu ga gue siapa?”

“Iya, dapet. Kenapa ya?”

Trus gue ga bisa denger apa-apa lagi. Suara diseberang mendadak ga kedengeran lagi. Gue hallo-hallo tapi tetep gue ga bisa denger Nokia ngomong apaan. Ponsel gue serahin lagi ke Capt. America.

Akhirnya doi selesai telpnan. 

Doi minta maaf ke gue. Ga enak sama gue. Gue bilang santai aja. Doi nanya tadi ngobrolin apa, gue jawab. Trus doi cerita panjang lebar tentang dirinya dan Nokia. 

Okay, the best part of this story is now beginning!


Nokia marah karena Capt. America jalan sama gue. Intinya seperti itulah. Capt. America bercerita panjang, lebar, lengkap, dan sedikit curhat.

Mari kita dengarkan apa yang Capt. America ceritakan pada gue.

“Nokia marah ketika tahu aku jalan sama kamu. Soalnya tadi siang aku bilangnya aku jalan sama temen-temen. Setelah tahu aku nonton sama kamu, dia nanya siapa yang ngajakin keluar, aku bilang aku. Aku yang ngajakin kamu nonton.”

“Oh… Trus darimana dia tahu kamu nonton sama aku?”

“Mungkin dari twitter. Kan kamu ngemention aku.”

“Hm? Emang dia ngefollow aku?”

“Ya, mungkin dia ngesearch nama aku di twitter.”

Oh, baiklah. Kemudian doi ngomong lagi.

“Hm, mungkin dia keselnya gara-gara minggu lalu dia ngajakin aku nonton tapi aku ga mau. Dia bilang kaya gitu barusan.”

“Oh…”

“Iya, kaya gitu. Aku bener-bener ga enak sama kamu.”

“Santailah. Tapi aku agak kurang suka nih ketika orang yang aku ajak makan nerima telp lama-lama.” Kata gue santai.

“Maaf ya, San..” Mukanya nunduk, tersirat dia merasa tidak enak dan sedih. Kemudian dia melanjutkan lagi.

“Nokia kecewa sama aku. Kenapa aku bisa secepet ini ngelupain dia. Dia bilang apa kamu tahu kalau kamu adalah pelampiasan aku saja? Aku jadi mikir tentang ini. Apa iya kamu pelampiasan aku. Apa kamu merasa aku menjadikan kamu pelampiasan aku, San?”

“Kamu merasa kamu ngejadiin aku pelarian ga?”

“Aku ga kepikiran sampai situ.”

“Yaudah, santai.”

Kami terdiam. Gue pun membuka suara.

“Capt, sebenarnya kalian masih pacaran atau enggak?”

“Di malem saat aku chat pertama sama kamu kita sepakat untuk udahan secara baik-baik. Tapi tadi aku sempet telpnan sama dia. Jujur, San. Aku kadang masih kebayang-bayang, masih merasa sedih kalau ingat kenangan aku sama dia. Tapi mau gimana lagi, ini emang harus diudahin. Maaf, San…”

“Wajar, namanya juga baru putus. Ga mungkin bisa secepet itu ngelupain semua-semuanya. Apalagi kalian udah sama-sama selama dua tahun. Ga bisa semudah itu memang ngapus semua, apalagi klo udah menyangkut urusan hati.”

“Aku bener-bener ga enak sama kamu.”

“Santai aja. Aku ngerti banget gimana perasaan dia. Sebagai cewek, aku pasti akan kecewa juga klo mantan aku melakukan hal sama kaya gini. Sebagai dia, aku pasti kecewa kenapa kamu bisa secepat ini jalan sama aku. Entah mungkin aku hanya pelarian atau bukan, rasa kecewa yang dia rasain pasti ada.”

“Kamu bakal melakukan hal yang sama kalau kamu jadi dia?”

“Enggak. Aku memilih diam dan ga mau tahu. Karena biar bagaimanapun juga kamu adalah mantan dan aku ga berhak lagi turut campur sama keadaan kamu. Memang rasa sayang dan kangen akan kenangan ga hilang begitu saja. Aku ngerti banget. Ya, aku juga pernah ngalamin itu. Aku berusaha kuat, meski rasa sedih dan galau yang aku alamin berbulan-bulan. Tapi ya sudahlah. Semua itu wajar.”

Akhirnya dia cerita kenapa dia harus mengakhiri hubungan dengan Nokia. Dia menceritakan alasan tersebut secara detail. Gue pun menjawab begini:

“Kita ga ada yang tahu kedepannya seperti apa. Mungkin kamu bisa bersama dia lagi atau enggak. Klo misal kamu bersama dia lagi ya bagus, klo ga, ya terima saja. Kalau kamu mau menjaga perasaan dia dengan kamu ga usah kontak aku lagi, aku ngerti. Ini juga demi kamu di mata orang lain. Santai aja.”

“San, kalau kaya gini, dengan aku jalan sama kamu, apa aku jadi main hati ya?”

“Santai aja. Semua orang punya pandangan masing-masing. Jangan terlalu dipikirin.”


Banyak hal yang gue sampaikan ke dia. Gue saat itu kaget. Kenapa gue bisa mengatakan hal-hal yang ga pernah terpikirkan oleh gue sebelumnya. Sekarang gue tahu jawabannya. Semua karena pengalaman dan kemauan untuk belajar dari pengalaman itu. 

:)


Dear Readers and Nokia,

Menurut kamu apa aku melakukan hal yang salah disini? Saat chat pertama dengan Capt. America yang aku ketahui bahwa dia sedang sendiri meski ternyata pada kenyataannya tidak demikian. Kemudian saat dia mengajak saat keluar bersama, faktanya adalah dia sudah sendiri. Adakah yang salah? Saya rasa tidak.

Mengenai perihal mengenai kemungkinan menjadi orang ketiga, rasanya itu sangat tidak tepat. Seandainya aku tahu, aku pastinya tidak akan melakukan itu. Aku seorang perempuan. Aku tidak akan tega menyakiti sesama perempuan. Apalagi jika sampai harus menjadi orang ketiga. Karena apa? Karena aku sangat paham rasanya menjadi Nokia. Aku sangat paham :)

Aku sudah diceritakan berbagai hal tentang Capt. America dan Nokia. Permasalahan yang mereka hadapi pun aku tahu langsung dari mulut Capt. America. Jadi sangat tidak adil rasanya bila aku dikatakan sebagai perusak hubungan. Aku mengerti Nokia kecewa, marah. Wajar, sangat wajar. Keadaan saat baru saja putus memang meletihkan. Seolah seluruh dunia tidak berpihak kepada kita, pikiran kalut, dan rasa pedih yang tidak berkesudahan.

Mengenai pelampiasan aku tidak bisa banyak komentar. Siapalah yang tahu rahasia hati seseorang. Lagipula, jika aku memang seorang yang ditujukan sebagai pelampiasan, aku tidak memiliki ide untuk itu. Semuanya ada sebab dan akibat di dunia ini. Yang bisa aku lakukan adalah bersikap santai dan berniat baik. Memang itulah yang aku lakukan. 


Dear Capt. America,

Kita sudah sama-sama dewasa. Aku mengerti jalan pikiranmu lebih dari apa yang kamu berani sampaikan kepada aku. Mengenai semuanya. Kamu hanya perlu waktu. Santailah pada semua. Semuanya ada jalannya sendiri. Malu bila memikirkan beberapa hal ini terlalu jauh ke depan. 


Dear God,

Sekarang saya tahu. Dirimu adalah sang Maha Adil. Dulu aku sempat berkeluh kenapa semua hal yang tidak aku inginkan malah menimpa aku. Aku mengerti kini, inilah sebuah pembelajaran hidup untukku agar lebih memahami orang lain. Love You.

Aku perempuan, aku tidak menyakiti seorang perempuan. Bila aku mau, aku bisa saja melakukan itu. Tapi itu bukan aku.


- Ash - 

5.14.12.

0

Curhat: Sekilas tentang Gerobak

Hari ini saya mau berbagi cerita tentang Gerobak, sebuah bentuk kecil komunitas pertemanan di jurusan saya, di kampus saya ini.

Gerobak adalah singkatan untuk Gerombolan Bali - Batak. Entah bagaimana nama ini bisa muncul. Yap, pada awalnya Gerobak terdiri dari empat gadis Batak dan satu gadis Bali. Sesuai dengan perkembangan, masuklah seorang pria berdarah Lampung yang besar di Jakarta. Kini, Gerobak pun terdiri dari enam anak manusia yang tiada lelah menggapai tujuan hidup. *Ceilah*

Anggota Gerobak (diurutkan berdasarkan umur. Hahaha):

1. Ash (yap, ini saya). Seorang gadis berdarah dominan Bali yang sangat pandai menari dengan jeritan paling melengking sejurusan. Hihihi.

2. Naco. Anggota Elf INA, pemegang IPK tertinggi sekaligus yang terpintar di jurusan. Uhuk.

3. Ingrido. Sangat feminin, lemah lembut, pintar memasak, dan paling rajin bersih-bersih kamar kost se-kampus. Hahaha.

4. Imeq. Wajah sih boleh ga Batak, tapi kelakuan paling Batak! Pemilik rambut terpanjang dan terindah sejurusan. Asyek.

5. Elmo. Pria dengan pemikiran yang sangat kritis, gaulish kuliner Bandung,  pemenang debat se-kampus. Ngeraiii!

5. Debita. Si bungsu yang paling rame, disayangi semua orang, dan seorang wanita dengan wajah terimut sejurusan. Uyeah!

Rasanya itu dulu yang mau saya share. Sedang sangat kangen dengan mereka. Lain waktu, cerita-cerita tentang mereka pasti saya tulis kembali.

-Ash-

5.07.12.

1

Asti Menari di Dies MGG ITB 2010 - Tari Cendrawasih

(Source: youtube.com)

5.07.12.

0

Cerita: Ya, Dia, Si Brengsek Itu.

Aku menatap layar leptopku. Entah apa yang harus kuketik di bab pertama skripsiku ini. Damn! Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Dia, si brengsek itu, melintasi otakku. Kata-katanya terngiang-ngiang dengan jelasnya di telingaku, wajahnya terlukis dengan sempurnanya di mataku. Aaaarrrggghhh! Rasanya aku ingin sekali mencabik-cabik wajah tampannya! Ya Tuhan! Tampan?

Pikiranku melayang ke hari kemarin. Hari dimana aku bisa memastikan bahwa itu adalah hari terakhir aku dan dia bertemu. Aku pikir mungkin akan lebih baik bila aku tidak berhubungan lagi dengan dia, si brengsek itu.

***

Hari itu kami pergi berlibur ke Tangkuban Perahu. Sekedar berjalan-jalan. Salah. Itu sebenarnya untuk membunuh waktu. Disana kami makan di sebuah warung kecil milik seorang nenek. Nenek itu sangat ramah kepada kami. Disana kami memesan sate kelinci yang sangat lezat. 

Kami sekali-kali bercakap-cakap dengan nenek tersebut. Kami saling berbagi cerita dan tawa. Suasananya sungguh hangat. Padahal saat itu, aku dan dia, si brengsek itu, telah memutuskan untuk membicarakan perpisahan kami. Bukan perpisahan mungkin. Tapi membicarakan keputusan kami untuk menyudahi hubungan kami. Hah? Keputusan kami? Salah! Itu keputusan dia! Ya, dia, si brengsek itu, saat itu dia masih kekasihku.

Salah satu kalimat yang diucapkan si nenek kepadaku ketika dia, si brengsek itu, sedang pergi mencari sesuatu, membuat aku benar-benar sedih. Nenek itu berkata: “Neng, kalian serasi sekali. Wajah kalian mirip sekali, seperti kakak dan adik. Nenek doain kalian jodoh.” Aku terdiam. Nenek itupun bertanya: “Kenapa tidak diaminkan, Neng?” Aku pun tersenyum dan mengamininya.

Setelah hampir berada dua jam disana, kami, aku dan dia, si brengsek itu, memutuskan untuk kembali ke Kota Bandung. Ketika tiba di mobil, hujan turun dengan sangat derasnya. Kami pun memutuskan untuk tetap di mobil hingga langit cukup santai menurunkan hujannya.

Di mobil, kami pun membicarakan mengenai rencana perpisahan kami. Hati yang sudah berduka akibat rencana ini pun makin teraniaya di tengah cuaca seperti ini.

Aku membuka pembicaraan. 

“Jadi, kamu tetap ingin kita berpisah?”

“Ya, Sher. Aku ga punya pilihan lain.”

“Kenapa? Kenapa harus begini? Ga bisakah kita tetap bersama?”

“Kamu ga akan ngerti. Kalaupun aku jelaskan lagi, kamu pasti tidak akan mau mengerti.”

“Tapi kenapa? Ga bisakah kamu membuat keputusan yang tidak menyakiti aku? Yang terbaik bagi kita berdua?”

“Maaf, Sher. Niat aku sudah bulat.”

Aku terdiam. Aku ingin sekali menangis, menumpahkan segala sesak yang aku rasa. Tapi aku berusaha tetap tegar. Dia pun terdiam.

“Andre, kenapa kita harus begini? Aku sama sekali ga ngerti. Kita masih bisa mencapai cita-cita kita meski kita bersama, Ndre. Aku juga ga ingin menikah besok atau setahun lagi. Plis, Ndre.”

“Sher, kalau hubungan kita seperti yang kamu bilang, apa bedanya putus dengan tidak tidak putus?”

“Maksud kamu?”

“Kita memang tidak pernah serius kan? Lalu apa bedanya kalau kita putus?”

Ya Tuhan, bisa-bisanya dia berkata seperti ini. 

“Ga serius? Hubungannya apa dengan ga nikah besok? Kamu bilang kita ga serius? Kamu berpikir seperti itu?”

“Aku merasa lebih nyaman saat kita masih berteman.”

“Lalu? Ini artinya kamu ga pernah sayang sama aku? Iya?”

“Bukan, Sher. Tapi… Harus apa yang aku harus katakan. Percuma. Kamu ga akan ngerti.”

“Ndre, kamu ini sudah bekerja. Kamu ini sudah dewasa. Apalagi yang kamu cari? Kamu masih bisa serius bekerja meski bersama aku.”

“Sher, maaf. Aku ga bisa. Aku sudah berjanji pada Tuhan, orang tuaku, dan diriku sendiri untuk fokus dulu dengan hal-hal yang ingin aku capai itu.”

“Tega kamu…”

Air mataku pun menetes. Aku menangis tanpa suara. Badanku bergetar menahan isak tangis.”

“Sher, plis.., aku…”

“Kenapa harus begini? Ga ada yang salah dengan hubungan kita. Ga ada masalah apapun pada kita. Tapi kenapa harus begini?”

“Sher…” Ucapnya lembut tak mampu menatapku.

“Ndre, aku sudah percaya banget sama kamu sampai aku berani…”

Aku terhenti. Aku pun menangis terisak-isak. Dia tetap pada posisinya. Menundukkan kepala.

“Aku harus apa, Ndre? Siapa yang mau sama cewek yang udah ga perawan lagi, Ndre? Siapa yang mau? Siapa!”

“Sher, aku ga masalah tentang keperawanan seseorang. Pasti banyak cowok di luar sana yang berpikiran sama.”

PLAKKK!

Aku menamparnya.

“Ndre, aku cewek! Kamu ga akan ngerti! Aku pikir kamu adalah lelaki yang tepat! Aku pun melepas satu-satunya kebanggaanku denganmu! Kenapa harus kaya gini, Ndre? Kenapa harus aku yang kamu sakiti? Kenapa harus aku? Apa salah aku? Apa salah hubungan kita? Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir kita akan selamanya bersama. Aku pikir kamu adalah orang yang tepat! Tapi kenapa, Ndre? Kenapa kamu tega sekarang ninggalin aku? Kenapaaa???”

Aku makin terisak. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sedih. Aku sesak. Perih hati ini memikirkan bahwa ini nyata. 

Andre, si brengsek itu, terdiam. Dia tetap menunduk. 

“Maafin aku, Sher…” Ucapnya lirih.

***

bersambung…

-Ash-

5.01.12.

0

Cerita: Your Betrayal (01)

This is a story about my friend named Adinda. Hari ini aku melihatnya duduk di atas kursi dipojok kamarnya menatap langit gelap di luar jendela. Tatapannya kosong, wajahnya tanpa ekspresi, bibirnya terkatup rapat, hanya bulir-bulir air mata yang jatuh di pipinya yang membuat aku masih menyakini ia menyadari aku memperhatikannya.

Hampir 30 menit dia tidak bergerak untuk menoleh aku yang tengah duduk mengamatinya di sisi tempat tidurnya. Alunan suara musik dari Bullet for My Valentine terus meraung-raung dengan lantangnya. Sangat kontras dengan kesunyian aura yang dipancarkan oleh diri Adinda.

Aku beranjak menuju leptop warna pink miliknya. Pilihan warna yang sangat lembut dan feminin, sangat sesuai dengan kepribadiannya yang anggun namun ceria. Aku menggerakkan mouse berwarna senada di sisi kanan laptopnya. Di layar berukuran 10” tersebut aku melihat i-tunes disetting hanya memutar satu lagu, Your Betrayal. Volume pemutar musik pun disetel maksimal olehnya. Sangat tidak sehat, pikirku. Aku mengeklik pengatur volume dan menurunkan suaranya. Aku menoleh kembali ke arah gadis cantik itu. Masih dengan posisi sama.

Aku melangkah dan bersandar disisi tembok di samping jendela. Mengamati apakah ada perubahan pancaran sinar mata dari kedua mata ekspresifnya. Baru aku sadari matanya sangat indah. Bulat dengan bulu mata yang tebal dan lentik. Tidak ada yang kurang dengan wajahnya. Alisnya rapi, hidungnya bangir, dagunya menyiratkan keangkuhan disana berpadu dengan apik dengan bibir tipis ranumnya. Aku menyebutnya wajah yang sempurna.

“Adinda… Adinda, do you hear me?” Ucapku dengan serak mencoba mendapatkan perhatiannya. Sia-sia. Ia tetap mematung dengan piyamanya, menopang dagu pada lututnya, memeluk kedua kakinya dengan erat. “Tell me your story, you can trust me.” Ujarku lagi. Aku duduk di jendela, terus menatap ia yang masih kukuh untuk tidak bergerak.

Air mata menetes kian deras melalui pipinya. Tubuhnya berguncang mencoba menahan tangis.

“Ash, aku… aku…” Dia mulai membuka mulutnya. Sungguh terasa berat cara ia mencoba berkata. “Ivan, Ivan tega, Ash… Ivan jahat”. Aku diam, masih menunggu ia mengatakan sesuatu. Aku sudah tidak terlalu terkejut mendengar ia berkata demikian. Berulang kali aku telah mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Berulang kali dan hampir tengah bosan bila ia menceritakan keburukan Ivan.

Ia menurunkan kedua kakinya, menghela napas dalam lalu  ia menatapku sekilas dan kembali menerawangkan pandangannya keluar jendela. Jari-jari tangannya tampak resah mengetuk2 sisi kursi. Ia berkata kembali, “Ash, Ivan ga sayang aku lagi. Dia mutusin aku siang tadi”. Kalimat yang polos, pikirku. Aku sungguh ingin menunjukkan simpatiku. Aku masih terdiam, ingin mendengar apa yang ingin ia ucapkan. Sedetik, dua detik berlalu ia memilih diam kembali.

“Alasannya apa, Din?” Tanyaku pada akhirnya. Mencoba terdengar lembut di kupingnya. Kuperhatikan ia semakin menangis dengan menjadi-jadi. “Ga apa-apa, Din. Cerita aja klo kamu mau.”

“Ash, dia bilang dia ingin bebas. Dia bilang aku terlalu banyak mengatur dia, dia bilang lebih nyaman dengan kondisi dimana aku dan dia belum pacaran.” Ia menyeka air matanya, mencoba terlihat tabah namun sia-sia.

“Mungkin memang lebih baik begitu. Kalian sudah terlalu banyak bertengkar dan mungkin dengan ini kamu bisa bertemu dengan orang yang lebih baik”

 Ia tersenyum kecut menatapku. Matanya menatap tajam ke arahku. Seakan ada seribu kebencian dari pandangan itu. Sungguh kejam dan menakutkan. Apa aku salah mengeluarkan kalimat? Ada yang salah dengan kata-kataku? Kemudian aku lanjut berkata, “Maaf, aku ga tahu apa masalah kamu. Tapi, ini memang sering terjadi bukan? Jatuh cinta, berpacaran, kemudian putus. Ini sudah berkali-kali kamu alamin. Kenapa kamu sekarang selemah ini?”

“Ash!” Bentaknya. Dengan menahan nafas yang terengah-terengah, ia memejamkan matanya. Menutup wajahnya dengan kedua matanya lalu menangis dengan lebih heboh. Oke, kata itu terdengar tidak enak. Baiklah, mungkin keadaan yang sedang menimpanya kali ini serius. Aku meraih kedua tangannya ingin memastikan bahwa aku salah berkata demikian dan ingin ia meringankan yang tengah dirasakannya kepadaku.

“Adinda, klo kamu  belum siap cerita ga apa-apa. Nangislah.” Ucapku dengan tersenyum. Bagai anak kecil ia menatapku. Lalu berkata:

“Ash, peluk aku…”

Aku membungkukkan badan, memeluknya. Mengusap-usap punggungnya. Kemudian ia berkata kembali,

“Ash, aku hamil.”

***

…bersambung…

-Ash-

4.27.12.

0